Dalam Persimpangan Pilihan

Posted by adeska on 20 September 2008

Kejadiannya sebenarnya sudah 2 hari yang lalu, Kamis/18 September 2008. Saya dihadapkan pada dua pilihan yang harus dipikirkan secara berimbang, dan harus diputuskan secepatnya karena menyangkut kepentingan mendesak dan darurat. Memilih antara mengikuti rasa kemanusiaan dengan ketaatan untuk menjalani ibadah kepada Allah SWT.

Singkat cerita, pagi itu ada seorang teman yang mencari orang yang berkenan menyumbangkan darah golongan A. Ada tetangganya (kerabatnya), seorang bapak berputri seorang, yang terjatuh dari atap rumah dan mengalami luka dalam. Ada tulang yang menusuk paru-paru (atau limpa) sehingga mengalami perdarahan dan darah memenuhi lambungnya. Jam 14.00 WIB siang itu, ia harus segera dioperasi. Dan operasinya membutuhkan backup darah.

Kebetulan golongan darah saya A. Dan teman saya mengharap saya untuk mau diambil darahnya. Tanpa pertimbangan macam-macam, kusanggupi untuk menjadi calon donor darah saat itu juga. Saya diajak untuk screening/cek darah di RS tempat si pasien berada. Tekanan darah diukur, lolos. Kemudian sampel darah saya diambil lk. 10 cc untuk dicek lebih lanjut. Menunggu satu setengah jam, baru hasil screening keluar dan hasilnya: saya boleh mendonorkan darah saya! 

Sebelum screening dilakukan, saya bertanya ke suster: mb, kalau sedang puasa, masih boleh diambil darahnya? "Boleh mas, asalkan semua persyaratan untuk mendonor terpenuhi". Jawaban dari sang suster makin memantapkan hati ini. 

Dengan mengucapkan bismillah, saya pasrah2 saja saat jarum menusuk lengan kanan saya. Dan tetes demi tetes cairan merah itu memasuki kantong tampungannya. Hingga kantong menggelembung. Sekitar 300cc darah ada dalam kantong plastik itu. Jarum dicabut dari tubuh. Selesai sudah, dan suster bertanya apa saya merasa pusing atau mual-mual? Dalam kondisi masih berbaring saya jawab tidak merasa pusing atau mual, hanya rasa lapar saja (karena puasa, hehehehe :) ).

Setelah 10 menit-an berbaring, pelan-pelan saya bangkit dari tidur. Dan.........seeennnng.. saya rasa muka saya panas, terasa seperti ada cairan yang turun drastis dari muka, ke leher dan lenyap! Pendamping saya spontan berkata kalau muka saya pucat pasi!! :(. Seketika langsung saya rasakan kepala pusing dan perut mual hampir muntah. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit, perut mual dan mulut rasanya pahit sekali. Seketika saya langsung berpikir, kondisi tubuh ngedrop dan dalam kondisi sakit. Seingat saya, waktu jarum pertama kali menusuk kulit, jam menunjukkan pukul 12.37 WIB. Berarti baru separuh hari saya puasa. Namun dalam kondisi yang seperti ini, masih layakkah saya puasa?

Jujur, sejak awal tidak ada pikiran sama sekali saya akan berbuka karena donor darah. Yang saya yakini, niat untuk membantu sesama dan lolosnya hasil screening darah saya sehingga layak untuk berdonor. Kondisi tubuh pasca donor ternyata berkata lain!

Akhirnya, tanpa alasan apapun dan lebih karena kondisi yang tubuh seperti ini, akhirnya berbukalah saya dengan segelas teh manis panas siang itu. Alhamdulillah, setelah segelas air mengisi dasar lambung, perlahan-lahan rasa pusing dan mual berangsur menghilang.

Semoga keputusan yang saya ambil tidak keliru. Meskipun terkesan saya menomorduakan Sang Khalik, tapi saya yakin, Allah Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati hamba-Nya, dan apa yang terbaik bagi hambanya.

Catatan:
Posting di atas kelanjutan dari tulisan di rehat, Jika Boleh Memilih

Digg Del.icio.us StumbleUpon Reddit RSS

{ 13 comments... read them below or add one }

pencuri kode mengatakan...

wah salut deh sama mas ades terus terang saya ajak kalau diajak puasa tuh ga kuat nahan untuk rokok apalagi kalau membaca tulisan mas ades saya rasa tuhan tahu mana yang terbaik dan itu saya kira udah keputusan terbaik dari mas ades karena tuhan telah memberikan pilihan kepada kita dan kita lha yang menentukan sendiri....baik atau buruknya...

ades hendra mengatakan...

@ Pencuri Kode
terima kasih kang Noval. Anda betul. Manusia bebas menentukan pilihan, berdasarkan pemikiran dan pandangan yang kita yakini. Tinggal konsekuen terhadap pilihan yg diambil.

pencuri kode mengatakan...

@adeshendra:yup benar sekali bang itulah yang akan menentukan kita di hadapanya...waduh jadi sungkan sayan ih bolak balik terus :D

Ecko mengatakan...

Gak masalah Mas, serahkan saja sama Allah. Atau kalau mau berpikiran sedikit nakal, toh pahala puasa yang (mungkin) hilang karena batal tergantkan oleh pahala menolong teman tadi. :D

ades hendra mengatakan...

@ Ecko
Trima kasih atas perspektif-nya mas Ecko. Judgement atas tindakan saya itu, saya serahkan sepenuhnya ma yang di atas saja. :)

ades hendra mengatakan...

@ Pencuri Kode
Tidak perlu sungkan bolak-balik ke sini, kang Noval. Saya seneng dikunjungi ko'.
Malam minggu, malam untuk begadang nich. :) Sekalian nunggu waktu sahur.

ritmehati mengatakan...

salut brother

adeska mengatakan...

@ Ritmehati
Thanks, brow Azzam.

Abi Bakar mengatakan...

"Barangsiapa menyelamatkan satu jiwa (nyawa satu orang), maka ia seolah
telah menyelamatkan jiwa (nyawa) semua orang." (QS. 5:32)

MasyaAllah bro, itu ayat untuk ente

ades hendra mengatakan...

Subhaanallaah. Merinding saya membaca terjemah surah Al Maaidah di atas.

Terima kasih kang Abi.

G.a.i.a mengatakan...

Subhanallah. Smoga Allah melimpahkan balasan karunia yang berlipat. Wallahualam. Amiin Ya Rabb.

*Smoga saya gak salah alamat.. makasih atas kunjungan ke taman hati, sama2 salam kenal*

iam mengatakan...

subhanallah..semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada antum..amiin..salam kenal..

adeska mengatakan...

@ G.a.i.a
Amin, amin. Semoga Allah SWT meridloi segala kebaikan dan ibadah Ramadhan kita semua. Amin.
Terima kasih sudah mampir, Gaia.

@ Iambaela
Amin, amin. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan barakah-Nya kepada kita semua.
Sudah siapkan bekal kita untuk mudik, termasuk 'mudik' ke 'kampung-Nya' bila tiba saatnya?

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Sobat Blogger semua. Komentar Anda, mempermudah saya berkunjung balik.
So, silahkan isi lengkap URL Anda dengan format http://www.domainAnda.com.
Matur nuwun.